Melawan orang tua DURHAKA atau tidak ?

Image

Malin kundang merupakan dongeng rakyat yang populer dari daerah Sumatra Barat, diceritakan dalam kisah itu seorang anak yang melupakan jasa-jasa orang tuanya yang sudah membesarkan memberikan kasih sayang dan kehangatan tapi begitu ia menikmati hasil di dunia, ia menelantarkan ibunya yang hidup sendiri. Ia malu mengakui ibunya yang tua renta serta miskin, hingga menghina ibunya. Kemudian berdoalah sang ibu agar anaknya tersebut mendapat hukuman dari Sang Pencipta segala, tak lama berselang berubahlah si malin menjadi patung bersujud.

Berdasar kisah rakyat itu kita di berikan wejangan agar tidak menelantarkan orang tua kita yang sudah susah payah membesarkan kita, mereka rela menahan lelah, sakit, bahkan malu demi yang terbaik buat anaknya. Seharusnya kita membalas budi mereka dengan selalu membahagiakan di sisa hidupnya, walau itu bukan perarturan tertulis dan memang tidak ada undang-undang dasar-nya yang mengharuskan kita membalasa budi mereka tapi sebagai ucapan terima kasih atas jasa mereka, saya itu sangat, harus, kudu’ kita lakukan.

“WITHOUT THEM, WE ARE NOTHING

Kenapa saya katakan kita bukan apa-apa tanpa mereka, coba bayangkan bagaimana kita bisa hidup, bagaimana kita bersekolah, dan yang pertama bagaimana kita bisa ada di dunia ini tanpa perantara mereka. Bukannya untuk meng-kultus-kan orang tua, tapi coba bayangkan bagaimana kita bisa ada di dunia kalo kita tidak dilahirkan ibu??.

Memangnya kita nabi Adam AS yang diturunkan dari surga untuk tinggal di dunia ini?. Lalu bayangkan bagaimana caranya kita bisa hidup, bisa makan, bisa sekolah tanpa bantuan orang tua kita?? Apa mungkin Sang Pencipta kita mau memberikan langsung segalanya ke kita?. Sungguh susah dibayangkan jika hal ini terjadi.

Sebenarnya dalam agama, dalam hal ini islam, menjelaskan akan banyak akibatnya apabila kita melawan atau bahkan melupakan kasih sayang orang tua. Seperti pada artikel yang pernah saya tentang balasan bagi anak yang melawa, menelantarkan, bahkan durhaka pada orang tua. Seperti haram masuk surga, kafir, tidak diterima amal kebaikannya dan lain sebagainya, sungguh sangat amat mengerikan balasannya.

Di sebuah artikel tertulis, dalam kamus besar Bahasa Indonesia, kata Durhaka diartikan sebagai 1) ingkar terhadap perintah (Tuhan, orang tua, dsb), dan 2) tidak setia terhadap kekuasaan yang sah (negara). Jadi, dalam konteks individu dan peran, anak yang durhaka adalah berarti anak yang tidak patuh atau suka menentang kepada perintah orang tua.

Juga dijelaskan Al Quran melalui Q.S Al Israa’, 17:23, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”.

Dikatakan kita tidak boleh berkata “ah” atau bahkan membentak mereka. kita juga diwajibkan untuk berkata yang sopan kepada mereka sebagai bentuk kasih sayang na penghormatan atas apa yang sudah mereka berikan pada kita. Jelas sudah kalau kita harus merawat kedua orang tua kita hingga mereka meninggalkan dunia ini.

Perlu di pahami bahwa segala yang orang tua berikan itu tidaklah mampu kita bayar sebagaimana kita membeli sebuah barang. Karena apa yang mereka berikan semua itu tidaklah bisa dinominalkan, semua berdasarkan rasa sayang orang tua kepada anaknya

Sewaktu kita masih belum bisa melakukan hal-hal yang bisa kita lakukan sekarang, orang tua kita yang melakukan itu semua untuk kita. Oleh sebab itu, saat sekarang kita sudah expert, sudah saatnya berganti kita yang melayani mereka sepenuh hati. Orang tua wajib untuk dilayani oleh kita sebagai bentuk balas budi atas apa yang sudah kita terima.

Dari Thoisalah rahimahullah, bahwasannya Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya,” Apakah engkau takut masuk dalam neraka?”. Aku berkata, “Iya”. Ia berkata, “Dan apakah engkau ingin masuk dalam surga?”. Aku berkata, “Iya” Ia berkata, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?”. Aku berkata, “Ibuku bersamaku”. Ia berkata, “Demi Allah jika engkau lembut tatkala berbicara dengannya dan engkau memberi makan kepadanya maka engkau sungguh akan masuk surga selama engkau menjauhi dosa-dosa besar”
(Tafsir Ath-Thabari).

Jadi sudahkah kita membahagiakan kedua orang tua kita? Atau malah kita mengecewakan mereka dengan melawan dan durhaka kepada mereka??

IT’S UP TO YOU

Categories: real life | Tags: , , , | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “Melawan orang tua DURHAKA atau tidak ?

  1. emidmy

    isyukron. zin share🙂

  2. yuni

    Kayak mana kalau kita sayang hormat telah berkorban demi mereka tapi mereka tak pernah bersyukur,tak pernah menyayangi diriku.aku bagaikan orang luar untuk mereka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: