Mendadak Mengantar Paket

Awalnya ga ada niatan buat jadi pengantar paket, terlebih paket yang diantar ini makhluk hidup pastinya sangat riskan buat di paketkan. Tapi demi memangkas biaya transportasi mau ga mau harus di jalani.
Pertama kali kirim paket hanya berjarak sekitar 20 km saja, karena pertimbangan kondisi jalan yang ga terlalu bagus meski tujuannya daerah ibukota provinsi. Pengiriman pertama pakai 2 motor karena paketnya cukup banyak, ada 3 kantong, motor saya 1 kantong dan motor teman 2 kantong, ya karena motor dia bisa muat banyak.
Nah, untuk pengiriman yang ini yang cukup membuat kami kapok. Jadi begini ceritanya, awalnya pembeli berjanji untuk ngambil barang langsung ke tempat kita, karena kita kekurangan barang akhirnya kita ambil dari tempat lain supaya tercukupi permintaan pembeli.
Setelah permintaan terpenuhi, secara mendadak pembeli ga jadi ngambil barang, dia minta di antar ke tempat dia yang jaraknya lebih dari 50 km dari ibukota provinsi. Berhubung barang sudah kita packing dan barang itu bukan milik kita sepenuhnya, terpaksa deh, #blonek, kita kirim sendiri paketnya kesana.
Perjalanan berangkat pukul 18.00 wib, prediksi normal (ga bawa paket) perjalanan bisa ditempuh selama 2 jam jadi perhitungan sekitar pukul 20.00 wib kita udah sampai di tempat mereka.
Awal perjalanan lancar tanpa masalah berarti itupun setelah mengecek kondisi bahan bakar yg memadai untuk perjalanan bolak-balik.
Sepanjang perjalanan yang sebenernya jauh dari kata nyaman itu selalu membuat emosi cepat naik, gimana ga, jalanan di malam hari sudah seperti milik bus, truk dan teman-temannya itu. Mereka seperti penguasa jalanan dengan tidak lagi memperhatikan motor-motor terlebih yg bawa paket besar2 seperti kita.
Harus ekstra hati-hati, terlebih masih ada jalan yang tanpa penerangan. Begitu ketemu minimarket kita istirahat sebentar sambil ngecek kondisi paket. Dan ternyata sudah mulai mabok darat karena kondisi jalan yang bergelombang aduhai itu. Tanpa lama-lama perjalanan langsung di lanjutkan. Ada di sebuah tikungan yang cukup seru kalo sendirian bawa motor tapi jadi tikungan yang bikin emosi saat itu. Di tikungan itu tetiba muncul bus dengan kecepatan yang ga dikurangi sedikitpun dan mengambil jalur kami. Disaat itu terpaksa saya membuang arah kekiri ke arah tanah supaya ga tersenggol bus itu. Teman yang saya bonceng secara spontan berteriak marah dgn kata-kata kasar. Saya cuma geleng-geleng dlm hati bilang “bener-bener yah”.
Belum selesai di situ ketika sampai di daerah yg dijanjikan, ternyata yang menjemput ga ada di lokasi. Kita kebingungan dan khawatir makhluk hidup yang kita bawa bisa menghembuskan nafas terakhirnya ditempat (heboh). Akhirnya setelah menelpon pembeli, kita nekat masuk ke jalan kecil yg di tunjukkan, #blonek. Menurut bapak itu dari jalan besar menuju rumah dia hanya berjarak kurang dari 5 km, tapi pada kenyataannya lebih dari 5 km terlebih badan yang sudah pegal-pegal apalagi pantat yang sudah panas ditambah jalan yang ga bersahabat, serasa kloplah cobaan malam itu, hufh. Setibanya di tempat pembeli, jam menunjukkan pukul 21.30 wib. Kita semua kaget, begitu lama waktu perjalanannya.
Selesai paket di berikan dan transaksi terjadi kita semua beristirahat dulu untuk siap-siap lanjut kembali. Setelah melihat jam ternyata sudah pukul 24.00 wib, akhirnya kita memutuskan untuk pulang. Perjalanan pulang pun masih harus menerima cobaan kantuk yang menyerang secara spartan, namanya juga #blonek.
Jadi setelah berangkat pulang, dengan kondisi yang super lelah, kalo di kasih nilai 1-9 kondisi saat itu masuk angka 4, tp krn emang janjinya cuma ngambil paket bukan nganter paket ya sudah di lanjut perjalanan pulang.
Sepanjang perjalanan yang untungnya kondisi mata saya masih siap untuk melihat jelas, saya memperhatikan teman yang membawa motor di depan sudah mulai ga teratur jalannya, kadang kekanan kadang ke kiri, sudah ga bagus ini menurut saya. Bahkan sempat dia hampir salah jalan karena tertidur sambil bawa motor.
Setelah melihat kondisi itu akhirnya kita putuskan untuk istirahat dan makan karena memang kita belum makan semua, jam menunjukkan pukul 02.00 wib. Selesai makan kita istirahat dulu supaya lebih fresh. Eh, tapi karena sama-sama mengantuk ditambah habis makan jadinya tidur deh kita di warung makan itu. Ketika sadar sudah pukul 03.30 wib, cukuplah istirahatnya buat melanjutkan perjalanan yang masih harus ngambil paket lagi.
Pukul 05.30 wib, kalo ga salah, kita sampai di lokasi ngambil paket, berhubung masih kepagian jadi kita cari SPBU terdekat buat tempat tidur lagi. Hanya bermodal jaket hujan yang saya rentangkan disebelah motor, saya tidur diatasnya. Ga peduli lagi orang-orang yang lihat bilang apa, hehe tetep #blonek. Tepat pukul 06.00 wib kita bangun dan langsung berangkat ngambil paket lagi dan langsung pulang ke tempat kita buat istirahat (melanjutkan tidur yang terputus2).
Inilah perjalanan mengantar paket tanpa persiapan yang memadai, hanya bermodal bahan bakar yang penuh di tangki motor dan sebungkus rokok buat temen ngobrol saat istirahat.
Dan hal ini ga patut dicontoh sama sekali. ^_^
Categories: real life | Tags: , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: