Padang Rumput Kesayangan

Mungkin postingan kali ini sedikit beda dari yang laen. Karena emang beda dan gw ga tau lagi harus tumpahin kemana pikiran gw malem ini.

 

Sebelumnya kalo ada yang ga suka sama postingan ini ga ush dilanjutin, ini postingan, iya galau beneran. Tp kalo emang pengen tau ya silahkan lanjutkan.

 

Dulu, semua indah ga perlu berpikir banyak ga perlu ada prasangka karena semua terlihat jelas.
Iya sejelas mata memandang tangan kita, memandang objek-objek di depan mata. Saat itu memang indah, ibarat tawa anak kecil yang sedang asik berlarian di padang rumput yang hijau disertai cerahnya awan di siang itu dengan matahari yang tidak terlalu bersinar terang tapi tidak mendung. Indah bukan??

 

Tapi seiring berjalannya waktu padang rumput itu mulai berkurang indahnya, selain karena kurang terawat, ada juga yang menggali tanahnya dan meninggalkan begitu saja, juga ada yang mendirikan bangunan tapi tidak dihinggapi, bahkan ada yang menyiapkan apartemen tapi terbangkaikan. Si anak pun bingung mau berlarian dimana lagi sekarang, tak ada ruang untuknya tertawa riang tak ada ruang untuknya menikmati keindahan alam saat dulu. Padang rumput yang dulu hijau, sekarang berubah menjadi padang bangkai bangunan. Si anak hanya bisa melihat dengan sedih dan meratapi ruang bermainnya yang hilang.

 

Menurut orang tua disana, padang itu dibangun tanpa ijin dari pemerintah setempat, tadinya diperuntukkan sebagai tempat tinggal warga sekitar tapi ternyata tendernya itu ilegal jadi dihentikan pemanfaatannya dan menjadi bangkailah dia sekarang. Mungkin jika ijinnya jelas akan sangat bermanfaat bangunan itu.

 

Si anak berusaha mencari tempat bermain yang baru dan dia berhasil menemukannya, tapi dia sesekali tetap menengok padang tersebut sambil berharap saat dia kembali dan tempat itu sudah menjadi padang rumput yang hijau seperti sebelumnya. Meski dia bisa bermain di tempat yang baru, tapi ada hal-hal yang tidak dia dapatkan, yaitu kepuasan bermain, hal yang hanya didapat di padang rumput itu.

 

Mungkin ada kesalahpahaman dalam berkomunikasi sehingga pembangunannya berhenti, pikir si anak mencoba mencari jawabnya. Atau mungkin ada pihak saja yang merasa dirugikan jadi di stop deh pengerjaannya. Apapun itu tetap saja tidak menyurutkan kecintaannya ke padang rumput itu.

 

Dan dia masih sangat berharap suatu saat nanti padang rumput yang sangat ia cintai itu kembali seperti padang rumput yang dulu biasa ia habiskan waktu bersama.

 

Udah yah, ga usah panjang-panjang, nanti bosen.šŸ™‚
Categories: real life | Tags: , , , , | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “Padang Rumput Kesayangan

  1. ini curhaaat? eh disana enak ya masih ada rerumputan ijo ijo gitu. jadi pengen…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: