Sendiri

Kemarin malam, dengan segelas kopi mocca dan sebungkus rokok, gue bercinta dengan angin dan heningnya malam.

Sebatang pertama terhisap sambil bercinta dengan masa lalu dan masalahnya.

Sebatang kedua terhisap tetap bercinta dengan nada yang penuh tekanan dan emosi.

Sebatang ketiga terhisap tapi kali ini banyak terdiamnya, bukan lelah tapi membiarkan agar angin dan heningnya malam membelai bibir dan seluruh tubuh gue.

Aneh? mungkin, tapi gue lebih bisa menikmati sendiri dan mampu mengeluarkan pikiran dan segala masalahnya tanpa harus ada lawan yang berbicara. Gue lebih bisa memahami permasalahannya dan bahkan bisa dengan sendirinya menemukan solusinya. Yup, dengan hanya bercinta kepada angin dan heningnya malam.

Angin dan heningnya malam merupakan teman yang paling baik, paling bisa mengerti dan merupakan pendengar yang baik buat gue. Mereka mampu menyerap semua keluh kesah gue tanpa pernah protes akan emosi gue yang kadang terluapkan tanpa sengaja.

Angin mampu membawa pergi semua keluhan gue, heningnya malam mampu meredakan emosi yang meluap-luap tanpa henti.

Ditambah bunyi terbakarnya tembakau, mampu menambah suasana dramatisnya malam itu.

Yak, malam itu gue bercumbu dengan angin dan heningnya malam. Malam itu gue bercinta dengan mereka berdua secara bersamaan. Dan gue terpuaskan.

Terima kasih angin, terima kasih heningnya malam.

Kalian memuaskan gue malam tadi.

*kecup*

Categories: real life | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: