Surat Ketiga

Blog-nya terjamah lagi.

 

Surat ketiga, ditujukan kepada manager di sebuah perusahaan. Surat sakti pertanda kecintaan terhadap pengejaran mimpi. Sebuah surat yang menjadi pintu masuknya ke dunia yang baru.

Empat perusahaan dan tiga surat tercipta dalam sejarah hidupku. Bukan berarti saya kutu loncat, karena dari ketiga surat itu hanya satu yang menjadi loncatan dalam pengalaman.

Bukan hal yang mudah memutuskan ketika kita memberikan surat tersebut, tapi dalam setiap keputusanku selalu berdasarkan pertimbangan yang mungkin sebagian orang akan berkata gila namun saya tak akan memperdulikan itu.

Untuk surat ketiga yang saya tulis dan saya ajukan sebulan lalu merupakan surat yang diputuskan berdasarkan atas ketidaksesuaian antara hati dan kondisi pekerjaan. Banyak hal yang tak seharusnya terjadi dan saya tak mampu berbuat apa-apa karena terbatas akan kemampuan untuk mengambil keputusan.

Pernah saya mendengar, jika kita sudah tak mampu lagi memperbaikinya maka lebih baik kita menghindarinya dan dalam posisi ini pilihan terbaik untuk menghindar adalah dengan menulis surat ketiga ini.

Iya surat ini merupakan surat resign saya yang ketiga di tiga perusahaan yang pernah saya cicipi. Tak banyak yang bisa saya ceritakan alasannya, karena bisa membuka aib perusahaan dan terlebih lagi aib seseorang.

Berkaitan dengan pengejaran mimpi, surat resign ini memang menjadi pintu untuk mengejar mimpi dalam mengembangkan minat saya untuk hal marketing communication, dalam fokusnya digital agency. Dunia yang saya kenal sejak 2011 hingga sekarang dan semakin dalam mencintai meski masih lebih mencintai pacar.

Dulu saat surat kedua yang dituliskan, merupakan sebuah kekalahan yang sangat disayangkan karena harus wisuda dengan sangat cepat dari perusahaan yang sebenarnya sesuai dengan kecintaan saya. Iya, perusahaan marcomm agency di bilangan Jakarta Barat dan mengelola content beberapa akun sosmed dan website. 

Tapi apapun itu, sebaiknya surat resign harus ditulis karena memang sudah menjadi sebuah keharusan dan merupakan pilihan terakhir yang harus dilakukan, bukan cuma karena sekedar ingin atau bosan. Dewasalah dalam memutuskan pilihan resign.

 

Categories: real life | Tags: , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: