Jumat 8:20 AM

Bidadari di Parkiran

Joni, begitu ia disapa, berteman dengan karyawan di sebuah kantor di ujung ruko itu. Kebetulan beberapa orang karyawan di kantor tersebut juga berteman dengannya dan sering ngobrol. Sebenarnya saat awal berdirinya kantor itu, joni merupakan karyawan angkatan kedua disana, namun karena beberapa alasan membuat Joni harus berhenti bekerja.

Suatu ketika Joni berkunjung ke kantor itu dan mendapati bahwa temannya sedang sibuk, sehingga dia keluar dan ngobrol dengan tukang parkir ruko. Parkiran motor berada tepat disebelah ruko, antara dinding ruko dan sebuah gang. Disanalah Joni menghabiskan waktunya dengan si tukang parkir, mereka ngobrol santai ditemani segelas kopi dan sebatang rokok ditangan.

Kantor yang cukup besar dalam jumlah karyawan outsource-nya sedangkan karyawan inti hanya tak lebih dari sejumlah jari di kedua tangan kita. Beberapa karyawan sedang berbincang juga di warung kopi sebelah parkiran, terlihat beberapa wanita dengan pakaian bersih dan cukup menarik mata untuk dilihat, juga tentunya dengan paras cantik meski dengan polesan make-up dan rambut terurai panjang sepunggung. Bukan hanya ada satu wanita, tapi juga ada sekitar 4 wanita yang bersantai bersama karyawan pria, mereka ini disebut sales promotion boy/girl (SPB/G). 

Joni yang kebetulan masih jomblo memperhatikan seorang SPG yang mampu menarik perhatiannya dana beberapa kali ia mencuri pandang dan beberapa kali juga tanpa sengaja bertatap mata langsung dan yang terakhir bertatap mata dengan cukup lama hingga Joni dikagetkan oleh suara peluit tukang parkir.

Sesekali Joni melempar senyum dan berbalas senyum manis dari si SPG. Si tukang parkir menyadari bahwa Joni tertarik dengan salah seorang SPG dan memberi tahu bahwa dia  itu  yang paling manis dari semua SPG  yang ada di kantor sebelah dan banyak pria-pria yang bekerja di sekitaran sini sering berusaha mendekatinya meski semua bernasib sama, hanya sebagai kenalan. Joni berpikir, apakah harus dia ikut dalam perburuan cintanya atau cukup menikmati balasan senyum manisnya saja.

 

3 x 4 m

Seorang karyawati sebuah toko serba ada di sebuah ruko pertokoan tinggal di bedengan kos-kosan belakang ruko tersebut. Semua orang di toko memanggilnya astri, sebuah nama yang pas dengan kondisi fisiknya, berambut hitam panjang dengan bentuk muka oval, berkulit sawo matang dengan bentuk tubuh proporsional. Astri berasal dari sebuah keluarga sangat sederhana di luar kota, ayahnya sudah meninggal sedangkan ibunya berjualan sayuran di pasar, kakaknya bekerja di pabrik dekat rumahnya dan mereka hanya 2 bersaudara.

Astri sudah 5 bulan bekerja di toserba setelah sebelumnya menjadi pembantu rumah tangga dengan majikan yang susah ditebak suasana hatinya, namun tidak pernah memperlakukannya buruk. Sejak awal bekerja, Astri langsung menarik perhatian karyawan pria di toserba dan beberapa tukang parkir dan penjual rokok pinggir jalan. Bukan hanya itu, beberapa tetangga kos juga ada yang menunjukkan gelagat ketertarikan, namun semuanya tidak ditanggapi Astri karena ia masih ingin fokus ngumpulin uang untuk membantu kondisi keuangan kakaknya yang ingin menyekolahkan anak semata wayangnya.

Hingga Astri lupa bahwa ia belum membayar uang sewa kamarnya selama dua bulan terakhir, dan saat dia pulang ke kos-kosan tak lama setelah itu anak pemilik kos-kosan mengetuk pintu kamarnya dengan maksud menagih. Astri meminta maaf karena belum bisa membayarnya sekarang, mungkin nanti bulan depan saat sudah gajian. Si anak juragan kos-kosan merasa iba dan, memang sedikit menaruh hati, akhirnya mengijinkan Astri membayar bulan depan dan berjanji tidak akan melaporkan hal ini kepada ayahnya.

Ternyata tetangga sebelah kamar Astri mendengar perbincangan mereka, kamar yang berukuran 3×4 m dengan dinding yang akan bergoyang jika terpukul meski dengan pelan saja, dan menunggu saat si anak juragan pergi untuk kemudian menemui Astri. Kos-kosan tersebut merupakan kos-kosan campur antar pria dan wanita dan cukup bebas untuk membawa teman lawan jenisnya main di kos-kosan.

Sesaat setelah si anak juragan meninggalkan Astri sendiri di kamar, datanglah tetangga kamar yang menguping pembicaran mereka. Dengan permulaan basa basi menanyakan maksud kedatangan anak juragan tersebut, lalu ia masuk ke kamar Astri dan sedikit menunjukkan rasa iba dan menenangkan Astri yang terlihat cukup kacau. Setelah suasana cukup santai barulah di tetangga ini menawarkan bantuan untuk pelunasan tunggakan sewa kamar 2 bulan, Astri sedikit sumringah seakan masalahnya selesai dan bisa bekerja dengan tenang. Namun perasaan senangnya berubah seketika saat si tetangga mengatakan kata “tapi..”. Si tetangga ternyata tidak membantu dengan gratis dan memberikan sebuah syarat atas bantuannya itu. Sebuah syarat yang tidak memerlukan banyak tenaga namun memerlukan pengorbanan hati yang sangat amat besar.

 

Gang Mawar

Seorang preman terlihat menghampiri seorang tukang parkir dan kemudian si tukang parkir memberikan sejumlah uang kepada preman tersebut, semua tukang parkir di seputaran ruko pertokoan dan perkantoran dihampiri dan semuanya memberikan jatah harian kepadanya. Selesai menagih, preman tersebut berjalan menuju gang dan berhenti di dibelakang sebuah gardu poskamling tepat sebelah gang. Kemudian ia bersama 2 orang temannya kembali jalan masuk kedalam gang tadi. Sejurus kemudian sampailah ia bersama temannya di sebuah rumah, yang bisa dibilang tidak terurus. Di dalam sudah menunggu Ekin, bos preman, ia menguasai 3 ruko perkantoran dan pertokoan di sepanjang jalan besar sana. Anak buahnya tak banyak, hanya berjumlah sekitar 10 orang, tapi mereka cukup ditakuti bahkan oleh kelompok preman daerah lain.

Keesokan harinya seperti biasa, penagihan jatah preman yang dilakukan anak buah Ekin dilakukan setiap jam 4 sore. Mereka diancam jika tidak memberikan jatah maka akan ada yang hilang, entah itu motor yang parkir di disana atau sesuatu yang dimilik tukang parkir yang menolak akan hilang. Pernah suatu waktu ada yang berontak dan berujung dengan kematian si tukang parkir yang melawan. Kematian dengan kondisi mengenaskan, seluruh bagian tubuh memar dan beberapa tulang rusuk patah, diduga akibat perkelahian yang tidak sepadan.

Sebenarnya tukang parkir disana sudah muak dengan kebiasaan ini, karena tiap hari mereka menagih dengan nominal yang tak pernah sama, bahkan terkadang ada yang di ambil semua penghasilannya di hari itu. Hingga akhirnya para tukang parkir ini sepakat untuk menolak memberikan jatah preman dan siap pasang badan jika mereka bertindak semena-mena. Jumlah tukang parkir dan preman anak buah Ekin sebenarnya tak seimbang, lebih banyak jumlah tukang parkirnya.

Dan benar saja di hari itu, semua tukang parkir menolak memberikan jatah preman. Kejadian tersebut dilaporkan kepada Ekin dan serta merta ia marah lalu mengajak semua anak buahnya untuk keluar dan merebut secara paksa semua pengahsilan tukang parkir. Namun tanpa disangka ternyata hari itu semua tukang parkir memang sengaja tidak bekerja dan sudah bersiap jika Ekin menyerang. Saat Ekin sudah keluar dari gang ternyata mereka disambut diujung gang dengan semua tukang parkir yang berjumlah hampir 3 kali lipat jumlah anak buahnya.

****

= kumpulan cerita singkat yang didapat dari sebuah mimpi =

Categories: dream | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: